Fiqri bukanlah seorang atlet atau pendaki profesional. Ia adalah mahasiswa tingkat akhir yang tengah penat dengan rutinitas kota, skripsi yang tak kunjung usai, dan ekspektasi masa depan yang membebani pundaknya. Dari jendela kamar kosnya, pada hari-hari yang sangat cerah, siluet Gunung Bawakaraeng tampak sayup-sayup di kejauhan. Ada semacam panggilan magis yang terus membisik di telinganya.

Ia ingin mendaki. Ia ingin lari sejenak dari hiruk-pikuk kota dan mencari ketenangan di atas awan. Baginya, menaklukkan Bawakaraeng adalah pembuktian bahwa ia mampu mengendalikan hidupnya sendiri. Berbekal perlengkapan sewaan dan latihan fisik selama sebulan penuh, Raka pun membulatkan tekad.

Langkah Pertama di Hutan Pinus Lembanna
Perjalanan dimulai dari Dusun Lembanna, titik awal (basecamp) pendakian Bawakaraeng. Udara dingin langsung menyergap kulit saat Raka memanggul keril seberat 15 kilogram di punggungnya. Aroma getah pinus dan tanah basah memenuhi rongga dada, memberikannya suntikan energi.

Perjalanan Raka melewati pos-pos pendakian memberikan ujian yang berbeda-beda:
Pos 1 hingga Pos 3: Jalur masih relatif landai, membelah hutan pinus yang rindang. Raka berjalan dengan langkah tegap dan napas yang teratur. Ambisinya menggebu-gebu.
Pos 4 dan Pos 5 (Pos Mata Air): Tanjakan mulai terasa menyiksa. Akar-akar pohon besar menjadi pijakan yang licin akibat kabut yang mulai turun. Di Pos 5, Raka harus mengisi perbekalan air. Napasnya mulai tersengal, dan pundaknya terasa seperti ditimpa batu karang.
Pos 7 hingga Pos 8: Inilah ujian sebenarnya. Jalur semakin curam dengan jurang menganga di sisi jalur. Angin bertiup kencang membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di sinilah mental Raka diuji.